Rabu, 11 Mei 2011

Anggun Mayasari dan 11 Mei

Anggun Mayasari (Anggun)
 Foto waktu jalan-jalan trus mampir di Foodcourt PROGO

Apa sih yang ada dibenakku tiap kali aku mikir tentang nih anak ..
Well, yang muncul pertama kali di otakku adalah 'bengek'
Yaaa, apasih kenangan indah selain lari-lari ngikutin guru yang lagi mbopong Anggun ke UKS sekolah pas bengeknya kumat. Yaaa, aku masih selalu inget gimana susahnya normalin nafas, perjuangan dia buat balik nafas normal lagi. Actually, She, her self can do it, no one else can helps her .. She, her self.
Dia itu orange maksa, maksa buat selalu tegar, entah karena apa aku juga nggak pernah ngerti. Anggun Anggun, ada kalanya jali waktu kita juga boleh nangis di depan temen-temen kita, apa sih susahnya, bikin lega juga kan ..
Yaapp, dan hari ini Anggun lagi ulang tahun,
Nggun, happy birthday yaaaa :)
moga tambah cantik, tambah dewasa, tambah sabar ngadepin semua masalah dan lingkungan baru ..
Semua butuh proses, Nggun, dan aku yakin kamu bisa ngelewatin itu semua ..
Sekali lagi, Happy Birthday, sayaaaaaang :*

Senin, 09 Mei 2011

Kau pada Jalanmu dan Aku pada Prinsipku

Ditulis pada : Rabu, 20 April 2011

Biasnya masih melekat. Menghapus segala paradigma abu-abu yang sempat mampir menghalangi tautan hati. Membuatmu berhenti berlari meninggalkanku sama sulitnya seperti menarik matahari untuk kembali. Kau tahu, ini tak mudah, dan akan selalu begitu. Karena pada akhirnya memang harus terjadi sekalipun spektrum hatiku memudar menyertainya.

Tetralogi, berangsur tapi pasti. Juga singgahmu padaku, berangsur sekalipun tak pasti. Haha. Aku bahagia terjerat stagnasi, sama halnya dengan aurora. Pernah mendengar tentang keindahan rotasi warnanya. Yapp, benar. Dia sepertimu, memekakan memang, tapi tak tergapai, tapi tak tersampaikan.

Kau pada jalanmu dan aku tetap pada prinsipku. Apapun yang menghalangi jalanmu juga berbagai longlongan tak beretika takan membuatmu berbelok dan tak kan membuatku beralih dari keteguhanku akan prinsip.

Bahagia dan Sakit

Senja itu pernah datang, menghujam hati dengan segala pesona aorta. Gemerisik pasir pantai menggelitik je ariku, menyentakku kembali pada alam nyata. Lalu semua terasa fana, ambigu belaka.
Aku bertanya pada seseorang yang dipercaya Tuhan, ‘Mengapa ada sakit ketika bahagia diciptakan’, lalu dia menjawab, ‘Karena mereka yang tak pernah merasakan sakit, tak akan pernah pula merasakan kebahagiaan’.
Aku bertanya lagi, ‘Bagaimana dengen mereka yang menyakiti’, dia menjawab, ‘Bahagia mereka tidak akan dilebihkan kecuali pada sakit mereka, sedang sakit mereka tak akan dikurangkan hingga mereka dimaafkan.’

REUNI

Topik kali ini adalah REUNI. Otomatis ini bakal bahas sedikit aja masa Sekolah Menengah Pertama ku.
Aku bukan cewek eksis di sekolah, bukan cewek berprestasi yang selalu rangking satu paralel, dan bukan juga cewek yang punya segudang prestasi untuk membawa nama baik sekolah. Aku cewek biasa, nggak pinter tapi juga nggak ‘nggak pinter’, nggak populer, nggak borjuis, dan nggak nggak yang lainnya.
But I have bestfriends. Yaa, mereka yang selalu ada ketika aku susah dan seneng, ada waktu aku membutuhkan bantuan mereka, dan ada ketika nggak seorang pun terima aku kecuali my Fams.
Yang akan aku ceritakan di sini adalah sahabat yang mengisi hari-hari bahagiaku selama akhir masa SMP dan kenangannya.
First, sebelum ada rombel 9.1, 9.2, 9.3, aku punya temen sebangku yang asooy banget. Namanya Ristaa Nadhliassa (Etaak). Dia cewek tentunya, hihi. Aku nggak ngerti seberapa banyak aku tahu tentang dia, tapi yang selalu aku ingat dari dia adalah, gengsinya yang luar biasa dan filosofi hidup yang luar biasa pula. Sebagai Ababil (ABG Labil) dia cukup berpendirian teguh, sangat malah. Dia satu-satunya sahabat yang bener-bener berani blak-blakan buat bilang aku SALAH. Yaa, I like her own way to talk to me. Uuuh, I miss Etaak.

Aku juga punya sahabat deket lainnya,
Ada Anggun Mayasari (Anggun), Niqwa, Hermadeta Widya Septiani (Deta), Annalisya (Minul), Vicha Amanda (Kak Vicha), Nabila Fitri Lutfiana (Mamah Bibil), Cynthia Wara Ivandasari (Cynthi), Nida Nur Azizah (Nenek), Alifah Yuli Nugraeni (Mamah), Aryaningtyas Widya Pamungkas (Chubby.chan), Vivi Andrika (Vivi), Rachma Dewi (Oma), Intan Fitri Ardinasari (Intan) dan banyaaaaaaak..
Aku sayang banget sama mereka. Hangout bareng bakal aku usahain sekalipun ada acara yang udah aku planning dari awal.
Guys, aku sayang sama kalin, Don’t judge the time and conditions that make a space between us ..
Love you :*


Tour de Gale

Berhubung sekolahku deket sama Galeria mall, jadi aku sering hangout ke sana bareng bestie. Eum, no no, kita nggak shopping-shopping seperti kebanyakan cewek borjuis, kita cuma seru-seruan aja di sana, entah nge game di Game Fantasia atau karaokean di Kids Fun, makan steak di Shuba, makan es krim di McD atau malah muter-muter doang nggak jelas. But the point is : Having fun :D


Ini foto di Kids Fun, Sinta Puspita Sari (Sinpus) yang rambutnya panjang, yang pendek ya pastiah aku :)

 
MC Flurry nih, waktu itu bareng Aya sama Sinpus ..

 
Itu Alay sama Aku :p waktu itu ada Sinpus juga ..

Well, sebenernya ada banyak foto, tapi yaa itu masalahnya, hotspotan di Perpustakaan Kota Yogyakarta tuh rame jadi agak lolate (loadinglate)
Enaknya maen di Gale itu simple, tempatnya nggak jauh dan nggak harus ngeluarin budget banyak, palingan juga parkir (Rp 1000) dan makan yang harganya masih standar pelajar.

List hangout di Gale itu macem-macem bos,

Waktu itu Buber 2010 di Shuba bareng Dinda, Anjela, Anis, sama Septi.
Makan di Shuba bareng Ristaa Nadhliassa (Etaak)
Mbojo sama Muhammad Fadli Arthayunanda (Fadli) DULU tapi :p
termasuk sesi nembaknya itu juga di Gale, haha :D
Trus ada juga curcol sama Anggun Mayasari (Anggun)

Pokoknya banyak deh ..
Ada juga sama Deta, Cemplok, dan paling sering Sinpus sama Aya.

The point is 'I love them'

Just an illusion

Written on March 30th 2011

It still makes me disappointed
When spoken words were all just lies
Can you imagine what kind of sickness that you made
Where love is once the biggest part
When there was joy in every beat, every single breath
Why do i have to cry?
Can you realized it, It hurts me so deep,
When I remind everything about YOU
Your smile, your laugh, your hugs, It seems unmeaning for you, Isn't it ?
How foolish am I. You must have been just an illusion.
I dream the dreams like lovers do.
I get down on my knees just to wish that you're for me.
That YOU are the one, what I spelled just your name !
What I had wait just you, you, and you !!
I don't know what happened with you, you just gave me many signals to reach you
How could I allow it.
I like you more than ever, can you see it from my eyes. You blame me.
Feeling empty, hopeless, lonely, guarded, and wondering WHY ?
Why you hurt me. Now there's no difference between my teardrops and the rain. It's all because of you !
I have love you and all that remains is my broken heart.
It's days like these when it's difficult to allow myself out of window and force myself to face the real world, for the real world is a scary place to be standing in alone. Without You anymore, without my laugh about you, not at all.
Trying to display a smile, trying to have hope that it will all come together. But honestly, with each passing day, the hope I have lessens ..



This Note is dedicated for a Boy that made me laugh in every second, ours : Fridaynight, March 25th 2011 @haunted house festival, Babarsari.

Hari Baik

Written on March 18th 2011

Membosankan memang memaksa matamu untuk mencerca tiap huruf dalam tulisanku hingga kalian mengerti tentang apa yang sedang ku embankan tentangnya. Hanya aku yang dapat merasakannya, mungkin sama dengan yang kalian rasakan, mungkin juga tidak. Tapi aku ingin membagi satu hal kepada kalian, bahwa setiap orang memilih jalannya sendiri. Tuhan bukan mendekdok kita dengan satu takdir, melainakan memberikan kita beberapa pilihan takdir untuk kita pilih, lalu kita ubah sedemikian rupa menurut jalan yang telah Tuhan pagari dari setiap pilihan-pilihan takdir itu. Tuhan memberikan kita pilihan, bukan memberikan kita satu takdir saja. Kitalah yang menentukan kemana takdir kita atas pilihan itu.

Ini bukan kali pertama aku menulis tentangnya. Mungkin sudah belasan atau bahkan puluhan kali aku menuliskannya, untuk siapa lagi kalu bukan untuknya. Jujur, sampai saat ini pun aku tak pernah bisa mencegah otakku untuk tidak menggantungkan namanya lekat-lekat agar dapat aku ingat selalu. Entah, aku juga tak mengeri apa yang ku rasakan, karena aku sendiri tak begitu peduli dengan apapun yang aku ilhami tentangnya, mungkin aku terlalu takut untuk mengakui segala yang terpendam begitu saja di sini. Takut, yaaa, ku akui aku takut.

Aku pernah mendengar dari seseorang yang dipercaya Tuhan, bahwa ketika kita tidak lagi bersama seseorang yang dianggap penting dalam menjalin hubungan berpasangan maka kita akan mendapatkan seseorang yang lebih segala-galanya dari dia, karena itu berarti dia bukanlah yang terbaik yang diberikan Tuhan untuk kita. Aku sadar benar mengenai hal itu. Juga tersebut mengapa aku menjadikannya prinsip hidupku sejak pertama aku mendengarnya. Semua teresap dalam tatanan hidupku, menjadi sebuah prinsip yang fundamental dalam hidupku. Tapi ini sedikit berbeda dengannya, aku tetap pada prinsipku, namun betapa pun banyak orang mengisi hatiku bergantian, dia memiliki satu ruang berbeda di sini, tak akan kemana, tak akan terganti sekalipun ada yang menjajarinya di hatiku. Sulit untukku sendiri mengerti akan apa yang ku yakini sekian lama tentangnya. Aku tak pernah berharap untuk menjadi seseorang yang berarti dalam hidupnya, sekalipun harapan itu tetap ada walaupun sedikit, aku tak pernah bermimpi untuk medampinginya. Kau tahu, ini tabu untukku. Aku menginginkan yang terbaik untukku nanti, tapi bukan saat ini. Betapa bodohnya ketika aku memanjatkan permohonan tentang sebuah hubungan sejati dari seorang Bajingan sepertinya. Itu jelas bukan diriku sendiri. Betapapun rasa ni menggebu-nggebu dalam tiap kedipan mataku, aku menginginkan yang benar-benar terbaik untukku, dan itu jelas bukan dirinya. Yaa, aku sangat meyakininya.

Aku bisa menyayangi seseorang selain dirinya, beberapa mampir di hatiku dan menyisakkan bahagia yang tidak bisa dia berikan untukku, beberapa meninggalkan luka lebih dari yang dia berikan untukku. Luka tentangnya pun belum kering hingga saat ini, sungguh, ini membayangiku hingga saat ini. Sejenak ketika mereka mengisi ruang kosong di sini, sejenak pula aku bisa melupakannya. Tapi seperti aku katakan, itu hanya sejenak saja. Pada akhirnya ketika mereka semua pergi, bayangannya justru menghampiriku. Aku tak bisa berapriori kepadanya, bahwa dialah yang membuatku tidak bersyukur atas apa yang Tuhan pilihkan untukku. Ingin kutegaskan sekali lagi, aku membiarkan rasa ini tetap ada dalam diriku, namun bukan berarti aku membiarkan hidupku sia-sia untuk mengindahkan segala hal tentangnya. Aku memang membiarkan rasa ini melekat padaku, namun bukan berarti aku membiarkannya untuk mengembang dan mendesak ruang lain yang seharusnya kuberikan pada mereka yang mempunyai ikatan tulus padaku.

Aku juga yakin bahwa Tuhan memberi hari baik pada setiap manusia. Memang benar, setiap hari yang Tuhan berikan di dunia adalah hari baik, namun Tuhan juga pasti memberikan hari yang lebih baik dari pada hari-hari yang lain untuk seriap orang. Yaa, aku percaya itu. Lalu aku menganggap bahwa hari Kamis, tujuhbelas Maret dua ribu sebelas adalah hari baikku bersamanya. Sembilan jam aku menghabiskan waktuku untuk bersmanya. Menceritakan segala hal yang berkecamuk, bernostalgia dengan berbagai kenangan yang terbesit begitu saja, juga menunggu hujan. Aku tak menyukai hujan, tapi bukan berarti aku membencinya. Hari itu menjelang malam, mendung dan gerimis. Aku sangat menyukai gerimis, mungkin itu menjadi salah satu alasan mengapa aku menyebutnya sebagai hari baik. Tapi selebihnya adalah karena aku bisa bersamanya. Senyumnya, kerutan dahinya, lirikan sadisnya, tawa lepasnya, desahan manjanya, juga berbagai hal yang menjadi satu dalam dirinya masih terekam jelas di memoriku. Semua terasa nyata, bukan mimpi. Walaupun hanya sesaat, aku merasa bahagia menjalani segala hal yang melintas begitu saja. Aku sangat mengerti, adalah benar aku akan kehilangannya lagi setelah ini, sama seperti hari-hari sebelumnya. Tapi aku menikmatinya. Tapi aku menyukainya.

Dia seperti halnya dengan angin, datang hanya untuk sesaat. Seperti senja dengan semburat oranyenya yang memekakkan mata. Sayang dia bukan matahari, yang menjanjikan esok tetap ada. Dia datang tanpa sebuah permintaan apalagi undangan, secara tiba-tiba menjadi sesosok yang sangat aku dambakan dengan segala kekurangan yang ditutupinya dariku, lalu hilang begitu saja, sangat cepat hingga tak menyisakan bekas sedikitpun. Dia ta pernah meninggalkan sebuah harapan, dia berjalan apa adanya, sesuai dengan apa yang dikehendakinya, itulah dia yang menjadikannya berbeda di mataku. Aku pernah terluka dengan segala hal yang dia saguhkan untukku, tapi seiring waktu berlalu semua menjadi biasa untukku. Dia akan datang lagi lalu pergi lagi, datang dan pergi begitu seterusnya. Mengapa aku membiarkan segala yang kurasakan mengenainya, karena semua hal tentangnya adalah tak pasti.

Aku juga pernah mendengar, bahwa Tuhan memberikan kita satu kesempatan untuk mengungkapkan apa yang terjadi di sini, di hati. Aku juga pernah mendapatkannya. Mungkin ini adalah traumaku hingga aku tak mau memikirkan rasa apa yang aku kasihkan padanya. Saat itu dia tak mempercayai segala hal yang ku ucapkan, bahwa aku menyayanginya, tulus. Hingga ketika Tuhan benar-benar baik dan memberiku kesempatan kedua melalui dirinya, dia menanyakannya padaku, ketika dia berkata ‘mengapa’, aku bukan lagi menjawab ‘karena aku menyayanginya’ namun aku menjawab ‘karena aku takut menjadi sayang padamu’, lalu dia bilang bahwa itu hanyalah alasan klasikku saja. Semua terhenti sampai itu saja, tak ada pembahasan lebih karena segala hal yang ingin kujelaskan padanya tersekat di tenggorokanku tanpa kompromi. Hingga saat ini pun aku tak pernah mengungkapkan segala hal yang berkecamuk dalam hati, yang terpendam sekian lama. Bahkan memikirkannya saja tidak. Mungkin takut menerima penolakan, mungkin trauma, entah aku tak ingin lagi peduli.

Aku tak akan berjanji untuk tidak menulis tentangnya lagi ataupun melenyapkan segala rasa untuknya. Dia adalah bagian lain dari hidupku yang tak akan mengganggu segala equiliburm yang aku jaga untuk mereka yang mengasihiku. Yang membuatku bersyukur dengan apa pun yang sedang ataupun telah terjadi. Tapi, aku menjadikannya hari baikku bersamanya, karena itu artinya, tak akan ada hari baik lagi untuknya, dengan itu pula ada satu kesimpulan, bahwa hari baikku adalah hari terakhir aku menyebut namanya di depannya. Dan itu adalah salah satu takdir yang kupilih dari Tuhan.